Największe lotnisko w Polsce pracuje na jednym pasie po wykryciu spękań
Jedna z dwóch dróg startowych Lotniska Chopina w Warszawie została wyłączona z użytku po wykryciu drobnych spękań podczas rutynowej inspekcji. Jak poinformował Piotr Rudzki z biura prasowego...
Google stawia na Kraków. 300 nowych stanowisk pracy w kompleksie Tertium
Google uruchomiło w Krakowie drugie biuro, wzmacniając rolę miasta jako jednego z kluczowych hubów inżynieryjnych koncernu na świecie. Nowa przestrzeń w kompleksie Tertium przy ul. Lublańskiej...
Raport „Światłowód Play”: gdzie w Polsce płynie najwięcej gigabajtów
Najwięcej danych w Polsce zużywa się dziś nie w ścisłych centrach metropolii, lecz na ich obrzeżach i przedmieściach – wynika z raportu „Światłowód Play”. Analiza zanonimizowanego ruchu w sieci...
Szpital Południowy w centrum uwagi. Zarobki lekarza i kolejki dla polityków wywołują systemową reakcję
Minister zdrowia Jolanta Sobierańska-Grenda zapowiedziała systemowe działania po ujawnieniu nieprawidłowości w Szpitalu Południowym w Warszawie. Chodzi m.in. o informacje, że lekarz Dawid...
Resort klimatu stawia na mobilne butelkomaty i cyfrowy zwrot kaucji
System kaucyjny w Polsce przygotowuje się do pierwszego pełnego sezonu letniego z nową infrastrukturą. Ministerstwo Klimatu i Środowiska zapowiada uruchomienie mobilnych butelkomatów, które...

Komdigi Gandeng Ratusan Guru Perkuat Tameng Digital bagi Anak

05.07.2026


Pemerintah memperluas upaya perlindungan anak di ruang digital dengan menggandeng ratusan guru melalui Forum Sahabat Tunas yang digelar di Denpasar, Bali. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menempatkan tenaga pendidik sebagai mitra strategis untuk membangun ekosistem digital yang lebih aman dan sehat bagi generasi muda, di tengah lonjakan penggunaan gawai dan internet di kalangan anak.

Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid mengingatkan bahwa setidaknya ada tujuh risiko utama yang mengintai anak di ruang digital: kecanduan internet, kontak dengan orang asing, paparan konten tidak sesuai usia, eksploitasi komersial, kebocoran data pribadi, gangguan psikologis, dan gangguan fisik. Ia menyoroti kecanduan digital sebagai salah satu risiko terbesar karena dapat mengganggu fokus belajar dan memengaruhi perilaku anak, sementara fitur komunikasi dengan orang tak dikenal berpotensi memicu perundungan, penipuan, hingga radikalisasi.

Direktur Jenderal Komunikasi Publik dan Media Komdigi, Fifi Aleyda Yahya, menekankan bahwa peran guru kini tidak lagi sebatas mengajarkan mata pelajaran seperti matematika, geografi, dan sains. Guru juga dituntut membekali murid dengan kemampuan menghadapi tantangan era digital, termasuk memahami ancaman penipuan daring, paparan kekerasan dan pornografi, serta pentingnya menjaga data pribadi. Ia menegaskan perlindungan anak tak hanya menyangkut aspek fisik, tetapi juga pikiran dan data mereka di dunia maya.

Forum Sahabat Tunas diikuti sekitar 250 guru secara langsung dan sekitar 500 peserta secara daring, dengan menghadirkan beragam narasumber, mulai dari psikolog yang membahas tumbuh kembang anak hingga pemateri yang mengupas ancaman penipuan digital dan literasi keuangan sejak dini. Melalui forum ini, pemerintah berharap guru memperoleh perspektif dan strategi baru untuk pendampingan aktif terhadap anak, sekaligus memperkuat komunikasi dengan orang tua dan masyarakat luas, sehingga upaya melindungi anak dari tujuh risiko digital dapat berjalan lebih komprehensif.